Showing posts with label graduation. Show all posts
Showing posts with label graduation. Show all posts

Wednesday, October 12, 2016

[Life Story] After Graduate College, then What?

Hai, selamat malam kepada para pembaca. Apa kabar? Sudah sekian lama ya aku tidak menulis di blog ku. Maafkan ya, sekarang-sekarang aku sedang dihantui oleh pikiranku sendiri. Hahaha.

Aku sudah menceritakan bagaimana aku lulus dan mengalami prosesi wisuda. Kalian bisa baca cerita lengkapnya disini. Setelah kurang lebih satu bulan lamanya setelah aku wisuda, aku kembali menjadi anak rumahan. Diam di rumah, bangun siang, tidur-tiduran di kamar, nonton youtube, browsing, menulis dan les bahasa di hari Sabtu. Itu adalah kerjaanku selama sebulan kebelakang. Setelah aku wisuda, banyak hal yang ingin aku capai. Salah satunya mendapat pekerjaan yang layak. Layak menurutku adalah pendapatan yang sesuai dengan biaya hidup selama di Bandung atau domisili pekerjaan serta setara dengan beban pekerjaan yang diberikan. Ketika aku kuliah, aku menganggap enteng mengenai pekerjaan dan mempunyai pikiran bahwa mendapatkan pekerjaan itu mudah. Ya, namanya juga pemikiran anak kuliahan yang masih labil dan belum merasakan kerasnya hidup.

Tapi ternyata, mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passion dan layak itu sulit ya.

Itu adalah jawaban yang aku dapatkan sekarang. Lalu apa dong yang harus dilakukan untuk mengisi waktu luang?

Aku sering banget protes/bete/mumet ketika aku tidak memiliki waktu untuk melakukan me-time atau rehat dari rutinitas. Sekarang, ketika aku memiliki waktu yang sangat banyak untuk melakukan me-time, pusing juga sih. Jujur, aku merasakan kebosanan dalam diri ketika aku tidak memiliki rutinitas. Ternyata, memiliki rutinitas itu begitu menyenangkan. Beruntunglah kalian yang masih sekolah, kuliah, bekerja atau memiliki kegiatan rutin yang setiap hari dilakukan. Nikmati selagi bisa dinikmati. Dapat produktif dan menyibukkan diri itu mengasyikkan loh.

Aku memang orang yang menikmati dan menyukai memiliki rutinitas atau pekerjaan yang rutin dilakukan. Why? Bingung juga sih ketika ditanya kenapa aku seneng melakukan rutinitas. Aku memang anak yang senang dengan kerapihan dan mengorganisir sesuatu. Makanya, ketika aku tidak memiliki rutinias, aku jadi bingung. Aku memiliki beberapa kegiatan yang sekarang-sekarang ini aku lakukan untuk mengisi waktu luangku.


1. Belajar hal baru


Setelah aku lulus, aku menyadari bahwa skill yang aku miliki untuk menyongsong masa depan itu masih dalam level bawah. Oleh karenanya, aku mulai mengeksplor apa saja yang harus aku pelajari. Banyak sekali yang ingin aku pelajari, namun untuk menghindari yang namanya overlapping dalam belajar suatu hal, aku memulainya dengan belajar bahasa Jerman (reviewnya disini). Aku seneng banget sih bisa belajar bahasa baru, bener-bener baru dan belum pernah aku pelajari sebelumnya. Ketika aku kuliah, aku selalu memiliki cita-cita untuk bisa jalan-jalan ke Eropa, salah satunya Jerman. Semoga setelah aku mempelajari bahasanya, aku bisa beneran pergi ke Jerman. Aamiin.


2. Merapikan dan Membersihkan Lingkungan


Aku seneng banget ngeliat sesuatu itu rapi, bersih, dan terorganisir. Entah kenapa, kalau melihat sesuatu yang tidak rapi, kotor dan tidak terorganisir itu, aku merasa stres. Merapikan sesuatu juga sering menjadi alasan atau sesuatu yang mengganggu aku untuk belajar sebelum ujian. Pernah gak sih tiba-tiba muncul dalam pikiran kamu, "ah beresin kamar dulu" sebelum kamu ujian? Aku sering banget. Saking seringnya, malah belajar sebelum ujiannya suka gak mulai-mulai. Hahaha.

Kita bisa mulai merapikan kamar kita (kasur, lemari, meja rias, meja belajar, dan lainnya), merapikan rumah kita (itung-itung bantu mamah) yang dimulai dengan nyapu kamar dan dilanjut dengan nyapu seisi rumah serta  nyuci mobil atau motor. Itu adalah beberapa kegiatan bersih-bersih yang selalu aku lakukan. Jujur, rajin membersihkan sesuatu itu sangat bermanfaat loh. Bisa bakar lemak (karena ketika bersih-bersih itu kita melakukan gerakan yang terus menerus), bisa membuat pandangan dan pikiran rileks (karena lingkungan bersih), dan bisa memudahkan kita ketika mencari barang. Hahaha. Ya, aku merasakan sendiri loh ketika lingkunganku bersih, aku bisa mencari barang dengan sangat mudah.


3. Lakukan Hobimu


Hobiku banyak. Salah satunya adalah nonton youtube mengenai tutorial make-up, vlog orang, atau berita terkini. Selain itu, aku senang menulis di blog ataupun diary pribadiku. Aku merasakan bahwa ketika menulis itu aku bisa melepaskan penatku. Aku bisa menulis semua yang aku rasakan dan pikirkan di diary pribadiku. Untuk menulis di blog, aku lebih suka menulis review tempat atau make up, cerita-cerita hidupku yang bisa diambil pelajarannya, dan tips-tips berguna.

Hobiku yang lain adalah mengambil foto atau video. Baik itu foto atau video yang bersifat pribadi atau pemandangan atau keadaan sekitar. Melalui foto itu, aku bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Foto dan menulis merupakan hobi yang saling berkaitan untukku. Dengan foto, aku bisa mengabadikan moment-moment berhargaku dan dengan menulis, aku bisa merangkai kata supaya foto itu dapat lebih bermakna.  Dibawah, ada beberapa gambar mengenai my life companion. Bukan bermaksud sombong, hanya ingin menceritakan mengenai barang-barang yang sudah menemaniku hingga detik ini.




Foto diatas adalah kameraku. Kamera yang udah nemenin aku dari SMA kelas 2 sampai detik ini. Sudah menemaniku melewati fase-fase kehidupan, mengambil berbagai momen berharga, melewati dua fase wisuda (SMA dan Kuliah), mulai dari newbie mengenai kamera dan foto sampai sekarang yang skill fotografinya biasa aja. Mulai dari baru sampai pernah di benerin dan memakan biaya yang sangat mahal. Hahaha. Makasih ya kameraku sayang udah nemenin sampai detik ini. Semoga kameraku bisa nemenin sampai fase kehidupan selanjutnya dan bisa diturunin ke anak. Aamiin. 




Laptopku tersayang. Nemenin dari belom skrispsian sampe sekarang udah lulus. Dari masa-masa jahiliyah sampai jadi bener sedikit. Hahaha. Sudah menghasilkan berbagai tulisan, ilmiah sampai gak ilmiah sama sekali. Semoga gak rusak ya kamu. Terimakasih sudah mengantarkanku hingga detik ini. 





Ini adalah buku diaryku. Didapat dari pemberian seorang teman. Buku ini begitu berharga karena berisi foto-foto pribadi, cerita-cerita pribadi mulai dari yang gak penting sampai cerita menguras hati dan pikiran serta berbagai dokumen-dokumen bersejarah. Terimakasih ya diaryku, sudah menjadi curahan hatiku dan menerimaku dalam masa-masa sulit. 



Foto diatas merupakan handphoneku. Iphone 5 merupakan handphone yang bersejarah karena aku dapat membelinya sendiri, menjadi saksi kemarahanku saat itu sehingga ia harus di service dengan harga mahal serta menjadi saksi hidupku juga. Oppo F1 Plus, menjadi handphone ku yang paling aktif sekarang. Kedua handphone tersebut sudah membantuku untuk memudahkan aku bekerja, belajar, apalagi mengambil foto (ketika aku malas membawa kamera). Terimakasih ya. 



Monday, September 26, 2016

[Life Story] College Graduation!

Halo, apa kabar para pembaca? 

Kali ini, aku pengen ceritain tentang pengalamanku wisuda. Aku wisuda sekitar tanggal 15 September 2016 di Sabuga, Bandung. Sedih sih sebenernya karena angkatanku udah gak bisa wisuda di Gedung Serbaguna kampusku. Alasannya, karena Gedung Serbaguna kampusku dibangun dan dijadikan ruang kelas untuk anak-anak angkatan baru. Padahal, bagiku, Gedung Serbaguna itu berarti banyak. Mulai dari pengenalan kampus, acara-acara kampus, ngeceng-mengeceng dengan senior sesama Fisip atau sebrang fakultas *ehem*, dan acara pelepasan wisuda bagi angkatan-angkatan senior. Ya, tapi mau apa dikata, aku dan teman-temanku sudah tidak bisa wisuda di Gedung Serbaguna. Btw, aku kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Lengkap ya? Hahaha. Aku kuliah alhamdulillah tepat 4 tahun, gak kurang dan gak lebih. Seneng dan bahagia juga saya bisa kuliah di kampus berlabel elit, mahal, dan berbagai label lainnya. 

Saya merasa, kampus itu memang terhitung mahal ya, baik dari biaya hidup (kosan dan uang makan sehari-hari), tapi memang sepadan kok dengan kualitas yang dihasilkannya. Pendidikannya bagus serta lingkungan perkuliahan yang baik (asal si anak bisa memilih teman yang tepat untuknya). Hanya, memang terhitung mahal apabila dibandingkan dengan kampus-kampus negeri seperi UNPAD dan ITB yang biaya kuliah dan biaya hidupnya tidak semahal UNPAR. Tapi, hal ternyebelin ketika saya kuliah di UNPAR itu, banyak orang yang suka salah kaprah ketika menyebutkan UNPAR. Mereka sering nanya balik like, "hah, UNPAD?" dan saya selalu menjawab "UNPAR, Parahyangan, bukan Padjadjaran. Itu loh, kampus yang di Ciumbuleuit". Pernyataan-pernyataan seperti itu sudah lazim disebutkan orang-orang sekitar saya. Tapi, lama-kelamaan sih udah pasrah aja. Hahahaha. 

Balik lagi ke cerita wisudaan.. Sehari sebelum acara pelepasan wisuda oleh Rektor, ada acara yang namanya pelepasan wisudawan dan wisudawati oleh Fisip. Seneng, gembira, sekaligus sedih juga sih. Aku harus berpisah dengan teman-teman seperjuangan dan memulai hidup masing-masing. Sebelum acara pelepasan dimulai, ada acara menyanyikan lagu-lagu nasional, hymne kampus dan doa-doa. Ketika menyanyikan lagu-lagu nasional, ada beberapa orang, yang aku ingat itu dia perempuan, duduk tepat dibelakangku, dia seperti tidak serius mengikuti acara tersebut. Berisik banget.  Sorry, dia kayak orang kampung baru masuk kota. Bayangin aja, lagi nyanyi lagu-lagu nasional yang seharusnya dihayati dengan baik dan nasionalis, ini malah ketawa-ketawa gak jelas dan ngobrol hal-hal yang sebenarnya bisa diomongin nanti setelah lagu nasional sudah selesai. Ya Allah, cobaan memang datang darimana saja ya. Kemudian, ada juga nyanyi lagu LABAPACA, lagu FISIP yang diajarkan ketika hari pertama menjadi mahasiswa FISIP UNPAR. Sedih, kangen, seneng, dan berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Aku bangga menjadi mahasiswa FISIP UNPAR.



(Suasana Taman Fisip ketika wisuwawan mendapat sambutan dari himpunan Publik, Bisnis dan HI)



(Adik-adik angkatan menyanyikan LABAPACA untuk para wisudawan dan wisudawati)



(Ka sisca, aku, Ka Mita, Ka Sarah, Ka Aisy)



(Kiki, aku, Ka Sarah, Ka Sisca, Nita, Ka Mita)


Pada saat pelepasan di Sabuga, acara dimulai sekitar pukul 6.30 untuk para wisudawan dan 7.30 untuk para orang tua. Tapi, ya namanya cewek, dandan lama, orang tua juga lama dan gak bisa diburu-buru, jadi ya gitu. Baru berangkat dari rumah jam 6.00 pagi dan sampe di Sabuga sekitar 7.30. Itu belom dapet parkir loh, aku harus turun duluan di gerbang Sabuga karena macet total. Yasudah, aku pun jalan. Mayan uga. Ketika sampai di tempat berkumpul, aku sempat pangling dengan teman-teman yang tampil cantik dan cakep lengkap menggunakan toga nya masing-masing. Aku sempet flashback dan berpikir, ternyata, 4 tahun yang lalu aku memulai kuliah, menjadi mahasiswa baru. Culun, kucel, cuek minta ampun, pake make up ke kampus pun enggak. Sekarang, sudah 180 derajat berbeda. Sehari tidak pakai lipstick pun, merasa ada yang kurang. Hahaha. Aku tidak banyak mengambil foto ketika pelepasan di Sabuga. Tapi, aku mengambil beberapa foto aku dan teman-temanku ketika disana.


(Kiki, aku, Almer, Iqbal)



(Aku, Saras)

Aku memang tidak mengambil banyak foto ketika di Sabuga. Bodohnya diriku. Hahaha. Tapi, gak apa-apa deh, aku masih mengingat memori-memori indah ketika awal masuk kuliah, kuliah dan wisuda kemarin. Dibalik kesuksesan dan kebangganku wisuda, tentu ada beberapa orang yang selalu mendukungku untuk selalu semangat skripsian. Hahaha. Tapi, yang paling intens dalam mendukungku skripsi adalah.... 


(Aku, Mas Ryan)

Yap. Dia. Namanya Ryan. Dia adalah pacarku. Hahaha. Dia adalah orang yang selalu marahin aku, ngedukungku, dan nyemangatin untuk nyelesaiin skripsi. Tanpa dia, apalah aku ni. Tiap hari tuh pasti pertanyaannya, "gimana ay udah nyelesaiin skripsi?" "gimana, udah bab berapa?" "gimana, udah bimbingan belom?" "gimana, dosbingmu? ada gak?". Ya Allah, orang tuaku aja gak gitu-gitu banget. Hahaha. Tapi, aku bersyukur karena sudah dipertemukan dengan mas yang satu ini. Dia yang membantuku semalam sebelum sidang untuk latihan bicara, buatin gambaran pertanyaan yang kira-kira akan diajukan oleh dosen penguji, ngasih minjem mouse portable, dateng ketika tengah-tengah penantian panjang menuju yudisium. Dialah yang selalu ingatkan aku hal-hal kecil ketika bimbingan, ngerjain skripsi bahkan sebelom sidang. Mas, makasih ya udah selalu ngingetin, ngebimbing, nyemangatin aku serta memberikan cinta dan kasih sayangmu. Tanpamu, aku hanyalah butiran debu yang dapat disapu oleh dosen karena pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Dan ternyata, pertanyaanmu jauh lebih sulit daripada pertanyaan dosen penguji :p. But still, I love you and I always do, mas Ryandi Adlan. 

Terakhir, mungkin tanpa mereka, aku gak akan bisa sampai di titik ini. Teruntuk Bapak Drs Tata Santana dan Ibu Sri Dini Wahyuni, orang tuaku, yang sudah memberikan pendidikan sejak usia dini, usia sekolah dan mampu mendorong anaknya untuk sampai ke titik ini. Terimakasih Pa, sudah memberikan kalimat-kalimat yang selalu menyemangatiku. Kalimat ampuh Papa yang selalu bilang 
Waktu adalah besaran fisika yang tidak bisa kembali ke nol 
adalah kalimat yang akan selalu kuingat. Kalimat itu memberikan makna bagiku bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu, kapanpun. Dan kali ini, papa dan mama sudah menyekolahkan aku sampai S1 dan aku tidak boleh menyia-nyiakan itu. Aku harus sekolah dengan baik. Itu adalah tekadku yang selalu kuingat apabila aku pengen skip kelas. Hahaha. Pa, Ma, anakmu ini sarjana toh. Terimakasih atas semua doanya, bantuan moralnya dan bantuan finansialnya. Kalian sudah ridho dimintain uang kuliah yang setiap semester selalu naik, uang jajan dan uang bensin yang mahal. Hehehe. Doakan agar aku bisa membanggakan kalian berdua yah. I love you.



(Mama, aku, Papa)

Menjadi Seorang Budak Korporat?

Haiiiii... Udah lama banget aku gak nulis blog.. Kangen buat nulis, tapi waktu yang aku punya buat nulis sulit banget rasanya :( Baru-baru...